Riyukko's Blog
S
t
a
t
u
s




| Woaah~ Aku kebanyakan update freebies ya? Hehehe... mumpung ada banyak link, jadi aku post aja. Daripada nanti malah lupa XDD
06.15 AM
10/07/15


| Edit sedikit penampilan blog ini X'DD Semoga gak terlalu mengganggu kalian~!
10.52 AM
04/07/15


| None
time
date
 


RULES

Please dont re-post my entries without linkable(?) credit ^^
----
Tolong jangan re-post setiap post-ku tanpa linkable(?) credit ^^ Setiap dosa ditanggung kalian~!

Hi There!


Riyukko. Candyroll. 16 y.o. An ordinary girl with ordinary ideas and ordinary activities.
Contact me? Comment here! And I do have LINE and FB account so just ask me if u want to know.

Tagboard


Blog Archive


The Friends


Credits

© 2013 - Full Template by Riyukko Ryuu and the basecode from Anugerah Salsa . Header hover code from Azkiya. Bullet Icons from Gasara
Protected by Copyscape Web Plagiarism Scanner
Cerpen : Mask
Minggu, 05 Juli 2015 | 0 Sparkle[s]
Title : Mask
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst
Author : ChuChocho / Riyukko
-=====-======-======-
Aku menyesal. Sungguh.

Mulai detik ini aku mengerti apa yang namanya patah hati, tikung-menikung, dan cinta bertepuk sebelah tangan. Padahal dulu aku pernah mengatakan bahwa cinta tak separah itu. Namun kondisi sudah berbalik 180 derajat. Ironis.

“Jadi, gimana hubungan kamu sama Andi?” tanyaku dengan nada ramah yang benar-benar dipaksakan. Andai orang yang berada di ujung telepon ini bukanlah sahabatku, niscaya aku sudah menghajarnya habis-habisan sekarang.

Terdengar suara canggung disana. “Ki-kita cuma teman doang kok!” dia berusaha mengelak.

“Teman ya teman, lama-lama juga pacaran,” tak sadar, iris cokelatku mulai berkaca-kaca.

“U-udah ah! Kalau ngobrol sama kamu kayaknya aku mati kutu mulu.”

Aku terkekeh pelan. “Ya, ya. Terserah.”

Begitu telepon ditutup, aku melempar handphone-ku jauh-jauh dan menghempaskan diriku diatas empuknya kasur. Kristal bening mulai meleleh dan menuruni pipiku. Tanganku tak kunjung melepas atau sekedar mengendurkan remasan pada sprei yang tak berdosa.

Lalu dengan tangisan yang bisa dikatakan tidak berbunyi, perlahan aku mulai terlelap.

Pagi.

Disinilah aku duduk seorang diri di kelas dengan disambut terpaan sinar matahari yang cukup menghangatkan badan. Hembusan angin sejuk langsung datang berkunjung kala aku menghampiri jendela dan menatap keluar.

Mataku memandang sendu awan putih yang seakan menggambarkan wajah ‘dia’. ‘Dia’ yang pernah aku dekati dulu semasa masih menginjak jenjang Sekolah Dasar, tepatnya saat kelas 6. ‘Dia’ yang memarahiku habis-habisan karena aku yang mencoba memberinya hadiah. ‘Dia’ yang seketika memutus kontaknya denganku setelah kejadian memarahi itu berakhir.

Dan ‘dia’ pula yang bercerita kepadaku kalau ia menyukai Alfa, sahabat terdekatku, setelah 2 tahun tak pernah mengobrol atau sekedar bertegur sapa denganku. Mungkin jika ‘dia’ menceritakannya secara langsung kepadaku, maka jadilah senyumanku akan memudar untuk selamanya. Bersyukurlah diriku kepada pencipta media sosial yang berhasil membuatku tak bertemu dengannya.

Samar-samar, indra pendengaranku menangkap gelombang suara yang jika dibaca sedemikian rupa, maka suara itu tengah menyebut namaku.

Tidak perlu pergi ke peramal untuk mengetahui siapa yang tengah memanggil-manggilku. Pastilah itu Alfa.

Senyuman lebar miliknya itu sungguh menyiksa diriku karena aku tahu dia pasti akan bercerita tentang suatu yang meresahkanku sedari tadi.

“Lif, tau gak?” ia memancarkan aura penuh semangat dan kebahagiaan yang justru membuatku kian suram.

Oh ya, aku lumayan terkenal di kelas dengan sebutan ‘Alif.’ Don’t ask me why.

Aku menggeleng pelan dan memasang senyuman terpaksa, seolah benar-benar ingin mengetahui apa yang akan terucap olehnya.

“Kau tau kan kalau aku mau ikut lomba cerdas cermat? Nah, kemarin aku ngobrol sama Andi dan dia bilang ‘semoga berhasil’!”

Kalau kau ada disini, duduk disampingku, maka kau akan tahu bahwa wajah Alfa sudah memerah seperti tomat yang ada di kebun Pak Somat.

“Terus?” aku memberi respon, supaya senyumnya itu tidak hilang. Meski aku tahu aku iri kepadanya, tetapi ia tetaplah sahabatku. Selamanya. Meski itu menyakitkan.

Alfa mendadak menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sementara kepalanya digoyangkan ke kanan-kiri. Terlihat sekali kalau ia tengah menahan malu atau bahagia yang amat.

“Itu bener-bener bikin aku termotivasi banget!!!”

Lengkap sudah. Aku sudah tidak punya harapan lagi. Aku tahu apa yang menjadikan Alfa seperti itu. Semuanya adalah salahku sendiri. Aku menyesal.

“Al, kamu ngomong kayak begitu sama aja kalau kamu suka sama Andi. Jujur aja deh, gak perlu bohong.”

Sebenarnya disini yang berbohong tentang perasaannya sendiri itu aku atau Alfa?

Alfa menyingkirkan kedua telapak tangan dari wajahnya dan menatapku lekat-lekat. “A-apaan sih?! Aku cuma bilang kalau kata-kata dia itu bikin aku termotivasi!”

Sebagai pemegang gelar ‘Sang Pengguna Topeng’, aku tertawa melihat sikapnya yang malu-malu itu. Dalam kondisi seperti ini, aku memang handal menggunakan topeng ‘senyum manis’ untuk menutupi wajah sedihku. Hebat, sekaligus menyedihkan.

Tetapi tetap saja, aku merasa tertarik ketika Alfa sudah mulai bercerita tentang kepribadian Andi. Mulai dari tanggal lahirnya, makanan favoritnya, dan apa yang dibencinya. Lalu aku? Bagaimana denganku?

Ah, mengetahui tanggal lahir Andi saja aku tidak tahu.

Pikiranku melayang-layang kembali ke beberapa hari yang lalu, dimana segala hal menyakitkan dimulai. Dimana aku sudah mulai tahu kebenaran tentang ‘dia’. Dimana aku tahu bahwa aku hanya ‘pemeran pembantu’ dalah kisah hidupnya.

Sore itu.

Dengan semangatnya, aku membuka akun media sosial milikku. Tidak jarang aku menyumpah-serapahkan sinyal internet yang lumayan menyebalkan. Namun aku bersyukur karena acara sumpah-sumpah itu tidak berlangsung lama karena sinyal internet sudah agak baikan.

Sepasang manik cokelatku mencari-cari nama ‘dia’ diantara puluhan orang yang juga tengah membuka media sosial tersebut. Senyuman lebarku mengembang dengan sendirinya tanpa perlu ditambah pengembang kue saat kulihat Andi mengirimiku pesan.

“Lagi apa?”

Tidak mau membuatnya menunggu, jari-jemariku dengan lincahnya mengetik balasan untuknya. “Lagi bernafas,” aku hanya berusaha untuk mencairkan suasanam, meski aku tahu itu percuma saja.

Dan sebuah jawaban yang paling sering kudengar darinya langsung tertulis begitu pesanku sudah terkirim.

“Owh.”

Jawaban singkat, jelas, dan membuatku bungkam. Sedih rasanya kalau percakapan kami selalu berakhir di jawaban ‘owh’ miliknya. Jadilah aku yang selalu mencari topik pembicaraan supaya aku bisa mengobrol dengannya.

“Kamu suka sama Alfa ya?”

Jangan tanya kenapa aku menanyakan hal seperti itu. Aku benar-benar penasaran karena hari sebelumnya Andi memberi tahu Alfa kalau orang yang disukai olehnya di kelas 3 dahulu adalah Alfa.

Cukup. Aku dilanda rasa penasaran. Aku hanya ingin ada sercecah harapan bagiku.

“Kenapa tanya tentang itu?” bukannya menjawab, ia justru balik bertanya.

Aku memutar kedua bola mataku kesal, meski aku tahu kalau Andi tak mungkin menyadarinya. “Jawab aja. Pilih ‘ya’ atau ‘gak’. Gitu aja kok repot.”

Andi mengelak kembali. “Ganti topik lain.”

Tidak. Aku hanya ingin jawabanmu atas pertanyaan yang satu ini.

Perlu waktu yang cukup lama supaya Andi mau dengan jujur menjawab pertanyaanku. Bahkan aku sempat memohon kepadanya. Kau tahu, memohon adalah sesuatu yang langka bagiku.

Namun anehnya, aku berharap sekali kalau jawabannya adalah ‘iya’. Entahlah, aku pun tak tahu kenapa. Oleh karenanya, selama sesi memohon tersebut, aku terus-menerus memaksanya untuk menjawab ‘iya’ tanpa aku tahu apa resikonya.

Akhirnya, Andi mau menjawab pertanyaanku. Aku melompat-lompat kegirangan membayangkan kalau jawabannya adalah ‘iya’, bukannya ‘tidak’. Jangan tanya kenapa. Aku memang seperti ini.

Tetapi siapa sangka kalau jawabannya—

“Iya.”

Justru membuatku terasa layaknya dihujam ribuan belati yang tajamnya tak perlu diragukan.

Kembali ke masa sekarang.

“Jadi, gimana?” aku menopang dagu dengan satu tangan, sementara tanganku yang lainnya sibuk memainkan pulpen.

Alfa menggaruk pipinya yang setahuku tidak gatal. “Ya gitu deh.”

Tiba-tiba sesosok orang lain muncul di benakku dan menghadiahi ribuan pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh Alfa. “Eh, si Yusuf mau diapain? Bukannya kalian saling suka? Nah, lho!” aku tersenyum tipis, seakan mendapat setitik cahaya di tengah lautan tinta.

Jikalau biasanya Alfa akan malu-malu ketika disebut nama ‘Yusuf’, kali ini ia malah memasang ekspresi datar. Sepertinya tak tertarik untuk membicarakan Yusuf. “Aku udah gak suka sama dia.”

Sakit. Aku kembali merasa sakit. Namun dengan cepat kutepis rasa itu dan memasang topeng ‘senyuman mengejek’.

“Oh, berarti lagi suka sama Andi ya?”

“Bu-bukan begitu!”

Lagi-lagi kulihat wajahnya kemerahan saat nama ‘Andi’ tersebut.

Menyakitkan memang. Tetapi sahabat tetaplah sahabat. Aku ingin keduanya bahagia bersama. Ya, meski aku tahu istilah ‘Jodoh ada di tangan Tuhan’. Tidak ada yang tahu siapa jodoh kita.

Dan mulai sekarang, aku akan mulai berlatih untuk memanggil ‘Andi’ dengan nama panggilan lainnya. Bukan nama yang buruk. Melainkan nama seorang karakter terkenal yang sifatnya seperti Andi atau nama karakter yang foto karakter tersebut dijadikan Andi sebagai foto profil. Ya, contohnya ; “.”

Mengapa? Karena aku ingin mencoba melupakan nama yang telah membuatku sesuram ini.

Ah, sejak kapan aku jadi seperti ini? Mungkin aku terlalu berlebihan.

Label: ,

Posting Komentar

Please comment after reading this post ><
No SPAM! No HARSH word!
Now, comment :)


Newer Post
Older Post